Hypatia dan Mimpi Masyarakat Intelektual Berbudaya 

  • Whatsapp

Oleh : Jane Anastasia Angela Lumi

warta1.net,MANADO– Kisah Hypatia tak semata kisah Perempuan. Ia adalah sebuah mimpi tentang masyarakat intelektual berbudaya–suatu utopia.

Bacaan Lainnya

Hypatia, seorang filsuf berparas cantik, putri dari Theon, pustakawan Alexandria. Ia lahir sekitar tahun 355 Masehi, dan dikenal memiliki pengetahuan di bidang astronomi dan matematika. Di bawah bimbingan ayahnya, ia berhasil menguasai matematika, ilmu pengetahuan alam, sastra, filsafat, dan seni. Ia bahkan lebih cemerlang dari sang ayah serta kebanyakan cendekiawan di masanya. Hypatia membuka kelas mengajar serta memiliki banyak murid. Sayang sekali pada zaman itu rasa haus akan ilmu pengetahuan (khususnya bagi perempuan) menjadi sesuatu yang berbahaya dan mengancam. Untuk itulah sekelompok orang berkuasa merancang agar Hypatia dilenyapkan. Dia adalah perempuan pertama dalam sejarah yang dibunuh karena ilmu pengetahuan (melakukan riset).

Seiring perjalanan waktu, Hypatia pada era ini tidak lagi semata melambangkan kaum perempuan yang belajar. Hypatia adalah simbol gerakan kerinduan terhadap pengetahuan dan kebenaran. Hypatia suatu pencarian tak kunjung usai tentang ilmu pengetahuan yang diyakini berguna dan memberi manfaat bagi kemaslahatan banyak orang. Ia mewakili suatu perjuangan sampai titik darah penghabisan, suatu pengabdian terhadap ilmu pengetahuan. Orang orang yang iri terhadap Hypatia merancang konspirasi untuk membunuh filsuf cantik ini. Tuduhan bidaah disematkan padanya sebagai alasan untuk menghancurkan dia dan karya karyanya.

Fernando Baez dalam “Penghancuran Buku dari Masa ke Masa” menulis bahwa mempelajari Hypatia seperti mempelajari masa kehancuran Alexandria, karena di masa itu perpustakaan terbesar di Mesir turut dimusnahkan bersama jutaan buku dan tulisan ilmiah di dalamnya. Lagi lagi bahaya sebuah fanatisme faham dalam bentuk dan wujud apapun terbukti lebih banyak melahirkan kehancuran daripada perdamaian. Jauh sebelum Baez, Umberto Eco secara brilian dalam novelnya yang fenomenal The Name of The Rose (1980) telah menggambarkan sekaligus memperingatkan bagaimana sebuah kesalehan kaku menyesatkan pikiran manusia dan mengorbankan nyawa banyak orang ketika ia berbenturan dengan pemikiran kritis dan bebas, ketika berhadapan dengan kebenaran yang terus dicari, digali dan dipertanyakan. Tuhan yang tidak ketawa itulah yang ideal–karena tertawa (menertawakan hidup/diri sendiri) sama dengan meragukan/mempertanyakan otorita yang lebih tinggi (dalam the name of the rose: Iman/Tuhan). Dalam konteks Hypatia–melakukan penelitian/riset adalah bentuk ketidakpuasan, bentuk pencarian kebenaran baru, serta mempertanyakan (mungkin juga menertawakan) otorita dan kekuasaan.

Usaha perlawanan terhadap orang orang yang tidak menyukai kemandirian dan kebebasan berpikir yang ditempuh Hypatia di masa lalu masih terus dilakukan hingga sekarang oleh siapa saja yang rindu membangun tatanan masyarakat intelektual dan berbudaya. Sebuah masyarakat yang tidak lagi memandang seseorang dari perbedaan jenis kelamin, warna kulit, agama, suku atau ras. Sebuah masyarakat yang tidak lagi mempermasalahkan kau datang dari mana, tetapi mengajakmu berpikir akan kemana serta bagaimana mencapai tujuan, mengajakmu melakukan banyak penelitian bagi kemajuan peradaban serta meminimalisir penderitaan umat manusia yang disebabkan perang, penyakit ataupun kelaparan dan konspirasi. Sebuah dunia yang mengajakmu berpikir solutif, banyak membaca dan menulis, merekam gagasan gagasan dari suatu kebudayaan agar tidak punah. Dunia yang masyarakatnya menjunjung tinggi dialektika dan kebebasan berpikir dalam bingkai yang kritis, cerdas, dan saling membangun. Sebuah masyarakat yang di dalamnya kau menyejarah secara intelektual sekaligus turut bertanggung jawab terhadap kemanusiaan. Suatu tatanan yang mengantarmu ke banyak penemuan yang berkontribusi bagi kelangsungan umat manusia. Beberapa mimpi Hypatia itu mungkin sudah atau sementara terwujud. Namun sepertinya kita masih harus berhadapan dengan realita kelompok manusia yang tidak suka ditentang dan merasa eksistensinya terusik oleh upaya pencarian kebenaran melalui jalan intelektual dan cara yang beradab (berbudaya). Pesan Hypatia masih terus menggema dalam ruang ruang hening refleksi.

Setelah peristiwa Alexandria berabad lampau itu, sayangnya masih banyak Hypatia “mati” berkali kali—dan mungkin, kita salah satu “pembunuhnya.”

Penulis : Adalah Penyair dan Penulis Buku

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *